Hari yang seharusnya penuh harapan berubah jadi kekecewaan besar buat pecinta bulutangkis Indonesia. Di semifinal BATC 2026, tim putri kita harus mengakui keunggulan Korea Selatan dengan skor 1-3. Pertandingan penentu jatuh ke tangan pasangan Tiwi/Fadia, yang kalah tipis 19-21, 19-21 dari Lee Seo-jin/Lee Yeon-woo. Ya, mimpi juara Beregu Putri Asia pupus lagi, padahal ekspektasi tinggi banget setelah perjuangan mereka sampai semifinal.
BATC 2026 ini digelar di Qingdao, China, dan jadi ajang penting buat tim beregu Asia. Buat Indonesia, turnamen ini seperti pemanasan sebelum turnamen individu besar lainnya. Tim putri kita datang dengan semangat tinggi, apalagi Tiwi/Fadia lagi on fire setelah baru saja juara Thailand Masters 2026. Tapi, bulutangkis memang kejam – satu momen salah bisa ubah segalanya.
Perjalanan Tim Putri Indonesia di BATC 2026
Sebelum semifinal, perjalanan tim putri Indonesia cukup berliku tapi penuh perjuangan. Di fase grup, mereka berhasil lolos sebagai juara atau runner-up grup, tergantung drawing. Yang paling seru adalah perempat final melawan Thailand. Saat itu, pertandingan berlangsung sengit sampai rubber game, dan Indonesia menang tipis 3-2 berkat poin krusial dari pemain muda kita.
Masuk semifinal, lawan sudah Korea Selatan – tim yang selalu jadi momok karena kedalaman skuadnya kuat banget. Korea punya tunggal dan ganda yang solid, sementara Indonesia mengandalkan kombinasi pemain senior dan junior. Harapannya, Tiwi/Fadia bisa jadi penutup manis kalau partai sebelumnya imbang. Sayang, skenario itu nggak terjadi.
Jalannya Semifinal: Indonesia vs Korea Selatan 1-3
Pertandingan semifinal digelar di Qingdao Conson Gymnasium pada 7 Februari 2026. Suasana tegang dari awal, dan inilah rekap partai-partainya:
- Partai 1: Tunggal Putri – Thalita Ramadhani Wiryawan vs Kim Ga-eun Sayang banget, Thalita kewalahan menghadapi Kim Ga-eun yang lagi di puncak performa. Skor telak 5-21 dan 4-21. Kim main cepat dan akurat, Thalita kayak kehabisan bensin dari awal.
- Partai 2: Ganda Putri – Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum vs Baek Ha-na/Kim Hye-jeong Duo muda kita ini berjuang, tapi pengalaman Baek/Kim terlalu berat. Kalah 14-21 dan 10-21. Ganda Korea ini memang spesialis beregu, koordinasinya sempurna.
- Partai 3: Tunggal Putri – Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi vs Park Ga-eun Nah, ini poin hiburan! Kadek main lepas dan dominan, menang straight game 21-14 dan 21-13. Dia berhasil balikkan keadaan jadi 1-2, dan harapan masih hidup.
- Partai 4: Ganda Putri – Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti (Tiwi/Fadia) vs Lee Seo-jin/Lee Yeon-woo Partai penentu ini super ketat. Tiwi/Fadia sempat tertinggal di gim pertama, tapi bangkit dan bikin reli-reli panjang. Sayang, di poin kritis mereka kurang tenang, kalah 19-21. Gim kedua mirip, kejar-kejaran poin terus, tapi lagi-lagi Korsel lebih klinis di akhir: 19-21 lagi.
Dengan kekalahan ini, skor akhir 1-3, dan Korea lolos ke final.
Mengapa Tiwi/Fadia Bisa Kalah Tipis Begini?
Tiwi/Fadia sebenarnya main bagus banget di pertandingan ini. Mereka baru saja juara Thailand Masters 2026, jadi percaya diri lagi tinggi. Di gim pertama, mereka sempat unggul 17-15 dan 19-18, tapi beberapa smash tanggung dan kesalahan positioning bikin poin kritis lepas.
Gim kedua juga sama. Mereka start bagus, unggul 3-0, tapi Korsel balik menekan dengan pertahanan rapat dan serangan cepat. Lee Seo-jin/Lee Yeon-woo ternyata pasangan dadakan yang kompak, mungkin strategi Korea untuk surprise. Stamina Tiwi/Fadia diuji habis-habisan dengan reli panjang, dan di akhir mereka kelihatan agak drop.
Ini bukan berarti Tiwi/Fadia jelek. Mereka sudah berjuang mati-matian, tapi lawan hari itu lebih siap di poin-poin krusial. Mungkin faktor kelelahan juga, karena jadwal BATC padat dan mereka sering main di partai penentu.
Profil Singkat Tiwi/Fadia: Harapan Ganda Putri Indonesia
Amallia Cahaya Pratiwi (Tiwi) dan Siti Fadia Silva Ramadhanti adalah pasangan yang lagi naik daun. Fadia, sebagai kapten tim, sudah punya pengalaman banyak di level internasional. Tiwi yang lebih muda bawa energi segar dan smash keras.
Mereka dipasangkan lagi setelah beberapa eksperimen PBSI, dan hasilnya langsung kelihatan – juara Thailand Masters 2026 dengan mengalahkan pasangan China di final. Banyak yang bilang, duo ini bisa jadi penerus Apriyani/Siti era sebelumnya. Sayang di BATC 2026 ini belum saatnya bersinar maksimal.
Reaksi Pemain dan Dampak buat Tim Indonesia
Setelah pertandingan, Siti Fadia sebagai kapten langsung minta maaf ke publik. “Kami sudah berusaha maksimal, tapi hari ini lawan lebih baik. Maaf belum bisa bawa pulang emas,” katanya. Reaksi yang dewasa dan bikin kita makin respect.
Dengan hasil ini, tim putri Indonesia otomatis dapat medali perunggu (karena semifinalis). Bukan buruk, tapi pasti ada rasa kecewa karena peluang juara terbuka lebar. Korea akhirnya juara setelah final, kalau dari update terbaru.
Buat PBSI, ini jadi bahan evaluasi. Ganda putri kita perlu lebih konsisten di poin kritis, tunggal juga butuh kedalaman lebih. Tapi positifnya, pemain muda seperti Kadek dan Thalita dapat pengalaman berharga.
Apa Selanjutnya Setelah BATC 2026?
Meski gagal di beregu, perjalanan belum selesai. Tiwi/Fadia dan tim lain bakal fokus ke turnamen individu seperti All England, Indonesia Open, sampai kualifikasi Olimpiade. Momentum dari Thailand Masters bisa jadi modal bagus.
Buat fans, jangan kecewa terlalu lama. Bulutangkis Indonesia selalu bangkit. Ingat SEA Games, Asian Games, atau Sudirman Cup sebelumnya – kita punya sejarah panjang juara.
Kesimpulan sederhana: BATC 2026 ini pelajaran berharga. Tiwi/Fadia sudah tunjukkan kelasnya, tapi butuh sentuhan akhir biar jadi juara. Semoga di turnamen berikutnya, Merah Putih berkibar lebih tinggi!
Kamu gimana pendapatnya soal pertandingan ini? Drop komentar kalau ada analisis sendiri!


