Legenda Meriam Puntung menyimpan kisah dramatis tentang penolakan cinta yang memicu perang antara Kerajaan Haru dan Kesultanan Aceh. Meriam ini menjadi saksi utama tragedi yang melibatkan Putri Hijau, putri cantik dari Deli Tua, dan Sultan Iskandar Muda. Kisahnya menggabungkan elemen sejarah, mistis, dan budaya Melayu yang masih hidup hingga kini. Mambang Khayali, adik Putri Hijau, menjelma menjadi meriam sakti untuk membela kerajaannya. Namun tembakan bertubi-tubi membuat meriam itu panas dan pecah menjadi puntung.
Cerita ini menarik wisatawan dan peneliti budaya. Legenda Meriam Puntung mencerminkan konflik kekuasaan di Selat Malaka abad ke-17. Anda dapat menelusuri jejaknya di Istana Maimun Medan dan situs-situs terkait di Karo. Kisah lengkap ini mengajak kita memahami warisan leluhur Sumatera Utara yang kaya nilai.
Latar Belakang Sejarah Kerajaan Haru di Sumatera Utara
Kerajaan Haru atau Aru berdiri di Deli Tua sekitar abad ke-15 dan ke-16. Wilayahnya mencakup tepian Sungai Deli, dekat Labuhan Deli. Kerajaan ini makmur berkat perdagangan rempah dan posisinya strategis di jalur Selat Malaka. Masyarakatnya terdiri dari suku Melayu Deli yang kuat mempertahankan identitas.
Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh pada masa kejayaannya. Ia memperluas kekuasaan dengan menaklukkan banyak kerajaan tetangga. Konflik dengan Haru meletus sekitar tahun 1612. Peperangan ini bukan hanya soal wilayah, melainkan juga kehormatan pribadi raja. Kerajaan Haru membangun benteng kuat di Deli Tua untuk melindungi rakyatnya.
Siapa Putri Hijau dan Saudara-Saudaranya yang Sakti
Putri Hijau lahir di Siberaya, dekat hulu Sungai Deli. Kecantikannya memancarkan cahaya kehijauan, sehingga ia mendapat julukan itu. Ia mengenakan pakaian hijau yang ikonik. Dua saudara kembarnya memiliki kekuatan luar biasa.
Mambang Yazid bisa berubah menjadi naga raksasa bernama Ular Simangombus. Naga ini rakus dan kuat. Mambang Khayali memiliki kekuatan menjelma menjadi meriam sakti. Ketiganya pindah ke Deli Tua dan membangun negeri yang makmur. Legenda Putri Hijau menggambarkan saudara-saudara ini sebagai pelindung keluarga dan kerajaan.
Penolakan Pinangan Sultan Iskandar Muda yang Memicu Perang
Sultan Iskandar Muda mendengar kecantikan Putri Hijau. Ia mengirim utusan membawa pantun indah untuk meminangnya. Namun Putri Hijau menolak. Penolakan ini membuat Sultan murka dan merasa dihina.
Ia segera memerintahkan pasukan besar menyerang Kerajaan Haru. Pasukan Aceh datang dengan jumlah jauh lebih besar. Mereka mengepung benteng Deli Tua. Pertahanan Haru awalnya kuat, namun strategi licik Aceh berhasil. Mereka menembakkan uang emas ke benteng sehingga penjaga berebut dan lengah. Pasukan Aceh pun menerobos masuk.
Pertempuran Sengit dan Transformasi Mambang Khayali Menjadi Meriam Puntung
Mambang Khayali melihat kakaknya terancam. Ia langsung menjelma menjadi meriam sakti. Meriam ini menembakkan peluru tanpa henti ke pasukan musuh. Tembakan bertubi-tubi membuat larasnya panas luar biasa.
Akhirnya meriam meledak dan terbelah dua. Bagian utama menjadi puntung dan jatuh di sekitar Labuhan Deli. Pecahan moncongnya terpental jauh hingga Desa Sukanalu, Kabupaten Karo. Kerajaan Haru akhirnya kalah karena jumlah pasukan Aceh yang tak tertahankan. Legenda Meriam Puntung ini menjadi simbol perlawanan heroik meski berakhir tragis.
Nasib Putri Hijau Setelah Kekalahan Kerajaan Haru
Putri Hijau tertangkap. Ia meminta keranda kaca, bertih, dan telur sebelum dibawa ke Aceh. Rombongan berlayar melalui Sungai Deli menuju pantai Aceh Utara. Di sana ia meminta rakyat Aceh melemparkan telur dan bertih ke laut.
Tiba-tiba hujan deras, angin kencang, dan ombak besar muncul. Naga raksasa jelmaan Mambang Yazid muncul dari laut. Naga ini mengguncang kapal-kapal Aceh hingga hancur. Putri Hijau raib ke dasar laut bersama naga dan bersemayam di perairan Pulau Berhala. Versi lain menyebut ia dibawa ke Aceh tapi berhasil melarikan diri secara mistis.
Lokasi Meriam Puntung Saat Ini di Istana Maimun Medan
Meriam Puntung utuh kini disimpan di Istana Maimun, Medan. Anda menemukannya di sebuah rumah adat kecil bergaya Karo dengan nuansa hijau-kuning. Meriam gelap ini diletakkan di atas blok batu putih, dikelilingi bunga segar, air suci, dan hiasan. Pengunjung sering mendengar suara aneh dari lubang meriam, seperti air mengalir atau angin gua.
Pecahan Meriam Puntung di Tanah Karo dan Versi Lain di Aceh
Pecahan moncong meriam tersimpan di Desa Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Karo. Masyarakat setempat menjaganya dalam sebuah bangunan tradisional. Pecahan ini berbentuk seperti slab batu atau besi hitam dan tetap dihormati sebagai bagian dari legenda.
Beberapa versi cerita menyebutkan pecahan lain sampai ke Aceh. Ini menambah misteri legenda Meriam Puntung di wilayah Aceh. Variasi cerita mencerminkan identitas budaya Melayu Deli, Karo, dan Aceh yang saling terkait.
Makna Simbolis, Signifikansi Budaya, dan Dampak Historis
Legenda Meriam Puntung melambangkan kesetiaan saudara, keberanian melawan penjajah, dan konsekuensi ambisi kekuasaan. Putri Hijau mewakili kecantikan dan ketabahan wanita Nusantara. Naga dan meriam menggambarkan kekuatan alam dan teknologi tradisional.
Secara historis, penaklukan Haru oleh Aceh membuka jalan bagi berdirinya Kesultanan Deli di bawah Panglima Gocah Pahlawan. Legenda ini memperkuat memori kolektif masyarakat Melayu tentang asal-usul mereka. Cerita ini diajarkan turun-temurun untuk melestarikan nilai-nilai budaya.
Wisata ke Situs Legenda Meriam Puntung
Anda bisa mengunjungi Istana Maimun setiap hari. Nikmati tur berpemandu yang menceritakan legenda secara langsung. Jangan lewatkan melihat meriam dari dekat sambil memberikan penghormatan. Kombinasikan dengan kunjungan ke Desa Sukanalu untuk melihat pecahan meriam. Wisata ini cocok untuk pencinta sejarah, budaya, dan mistis. Bawa kamera dan hormati aturan setempat saat berdoa atau memberi sesajen.
Kesimpulan
Legenda Meriam Puntung mengajarkan kita tentang cinta, pengorbanan, dan warisan sejarah yang tak lekang waktu. Kisah penolakan Putri Hijau terhadap Sultan Iskandar Muda menjadi pelajaran berharga tentang konsekuensi emosi dan kekuasaan. Meriam sakti ini tetap berdiri sebagai bukti perlawanan Kerajaan Haru.
Kunjungi Istana Maimun dan situs terkait untuk merasakan langsung aura mistisnya. Legenda Meriam Puntung terus hidup dalam ingatan masyarakat Sumatera Utara. Bagikan cerita ini agar generasi mendatang menghargai budaya leluhur.


