Bayangkan saja, dua anak muda Indonesia yang baru saja debut di turnamen badminton paling bergengsi di dunia, langsung bikin kejutan besar. Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin, pasangan ganda putra yang masih beraroma fresh dari PB Djarum, berhasil lolos ke semifinal All England 2026. Mereka bukan cuma lolos, tapi juga mengalahkan unggulan ketiga dari China, Liang Wei Keng/Wang Chang, dengan skor meyakinkan 21-18 dan 21-12 di perempat final. Ini seperti cerita underdog yang tiba-tiba jadi bintang, dan mereka bilang ingin “bungkam keraguan” dari orang-orang yang meragukan kemampuan mereka.
All England Open Badminton Championships 2026 yang digelar di Utilita Arena, Birmingham, dari 3 hingga 8 Maret ini memang penuh drama. Bagi Raymond/Nikolaus, ini adalah debut mereka di level Super 1000, tapi performa mereka bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Mereka datang sebagai pasangan baru yang partnership-nya baru dimulai tahun lalu, tapi sudah punya rekam jejak impresif. Dari menang di turnamen kecil hingga sekarang menginjak semifinal All England, cerita mereka ini bisa jadi inspirasi buat para pebulutangkis muda di Tanah Air.
Keraguan itu muncul karena mereka masih muda—Raymond baru 21 tahun, Nikolaus 20 tahun—dan belum punya pengalaman di turnamen besar seperti ini. Banyak yang bilang, “Ah, mereka cuma bagus di level bawah, belum siap lawan top player.” Tapi, lihat saja bagaimana mereka membalikkan situasi. Di babak 32 besar, mereka sudah mengalahkan pasangan Korea Selatan, Kang Min Hyuk/Ki Dong Ju, dengan skor 17-21, 21-12, 21-19. Lalu di 16 besar, mereka tumbangkan rekan senegara, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, 8-21, 21-14, 21-16—walaupun game pertama kalah telak, mereka bangkit di dua game berikutnya. Dan puncaknya, di perempat final, mereka hancurkan Liang/Wang yang notabene juara dunia. Ini bukan keberuntungan, tapi bukti kerja keras.
Artikel ini bakal bahas lebih dalam soal perjalanan mereka, mulai dari profil masing-masing, bagaimana partnership ini terbentuk, analisis pertandingan di All England, hingga prospek mereka ke depan. Siapa tahu, ini bisa jadi awal dari era baru ganda putra Indonesia. Yuk, kita kupas tuntas!
Profil Raymond Indra: Dari Bandung ke Panggung Dunia
Raymond Indra lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 24 April 2004. Tingginya 1,72 meter, main tangan kanan, dan sudah bergabung dengan PB Djarum sejak kecil. Dia bukan tipe pemain yang langsung meledak, tapi lebih seperti wine yang semakin matang seiring waktu. Awal karirnya, Raymond lebih sering main di level junior dan internasional challenge. Misalnya, di 2021, dia menang Bahrain International Challenge bareng Daniel Edgar Marvino. Lalu di 2023, juara Swedish Open dan runner-up Iran Fajr International, masih dengan pasangan yang sama.
Tapi, breakthrough-nya baru datang di 2025 saat dia dipasangkan dengan Nikolaus Joaquin. Mereka langsung klik, dan hasilnya? Menang berturut-turut di Singapore International dan Sri Lanka International pada Februari. Kemudian, Luxembourg Open dan Denmark Challenge di Mei. Yang paling keren, mereka juara Indonesia Masters II (Super 100) dan Australian Open (Super 500)—itu pertama kalinya mereka naik level ke Super 500 dan langsung juara! Di Australian Open, mereka kalahkan Man Wei Chong/Tee Kai Wun di perempat final, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin di semi, dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri di final. Itu yang bikin mereka dipromosikan ke tim senior Indonesia.
Raymond punya gaya main yang agresif, smash-nya keras, dan net play-nya lincah. Dia bilang, inspirasinya dari Marcus Fernaldi Gideon, mantan legenda ganda putra Indonesia. Di luar lapangan, Raymond suka baca Alkitab—dia sering post ayat seperti Yesaya 41:10 di Instagram-nya. Dengan 17 ribu followers, dia jadi role model buat anak muda yang ingin jadi atlet. Saat ini, ranking dunianya 17 di ganda putra bareng Nikolaus, per 3 Februari 2026. Bukan angka sembarangan buat pasangan baru.
Nikolaus Joaquin: Anak Jakarta yang Penuh Ambisi
Kalau Raymond dari Bandung, Nikolaus Joaquin lahir di Jakarta pada 14 September 2005. Tingginya 1,71 meter, berat 65 kg, dan juga main tangan kanan. Dia bergabung dengan PB Djarum dan langsung menonjol di level junior. Nickname-nya Joaquin atau Jokim, dan dia bilang ingin jadi champion—terlihat dari bio Instagram-nya yang kutip Mazmur 37:5. Dengan 18 ribu followers, dia aktif share momen latihan dan motivasi.
Karir Nikolaus mirip Raymond, mulai dari bawah. Dia punya rekor bagus di mixed doubles juga, tapi fokusnya sekarang di men’s doubles. Di 2022, dia dapat perunggu di BWF World Junior Championships (mixed team). Tapi, seperti Raymond, 2025 adalah tahun emasnya. Partnership dengan Raymond bikin dia naik level cepat. Mereka runner-up di Al Ain Masters dan Korea Masters (Super 300), tapi yang penting, mereka konsisten.
Nikolaus punya kekuatan di defense dan speed. Dia bisa cover lapangan dengan cepat, dan passing-nya akurat. Gabungan dengan smash Raymond bikin mereka pasangan yang seimbang. Di luar badminton, Nikolaus suka nongkrong sama teman dan main game—tapi tetap disiplin latihan. Dia bilang, “Saya cuma anak biasa yang ingin jadi juara.” Sikap rendah hati ini yang bikin fans suka.
Bagaimana Partnership Raymond/Nikolaus Terbentuk?
Cerita partnership ini dimulai di awal 2025. Sebelumnya, Raymond main bareng Patra Harapan Rindorindo dan Daniel Edgar Marvino, sementara Nikolaus lebih fleksibel. PB Djarum lihat potensi mereka, dan coba pasangkan. Hasilnya? Langsung menang dua turnamen internasional challenge berturut-turut. Itu seperti chemistry instan.
Menurut pelatih, Herry Iman Pierngadi, mereka cocok karena Raymond lebih attack-oriented, sementara Nikolaus bagus di backcourt. Mereka latihan intens di Kudus, fokus pada stamina dan taktik. Hasilnya terlihat di Australian Open 2025, di mana mereka juara pertama Super 500. Itu yang bikin mereka naik ke tim nasional senior.
Di 2026, mereka mulai dengan kurang mulus—kalah di babak pertama Malaysia Open Super 1000 lawan Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani. Tapi, bangkit di Indonesia Masters Super 500, runner-up setelah kalah dari Goh Sze Fei/Nur Izzuddin di final. Lalu, runner-up lagi di Thailand Masters Super 300 lawan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana. Di Badminton Asia Team Championships, mereka menang lawan Malaysia tapi kalah dari Thailand dan Jepang di knockout.
Partnership ini masih muda, tapi sudah punya 123 kemenangan karir untuk Raymond dan 72 untuk Nikolaus. Mereka bilang, rahasianya adalah komunikasi dan saling percaya. “Kami ingin buktiin bahwa anak muda bisa,” kata Raymond dalam wawancara pasca pertandingan.
Perjalanan Epik di All England 2026
All England 2026 adalah debut mereka di turnamen legendaris ini. Prize money-nya USD 1,450,000, dan ada 52 pasangan men’s doubles dari 17 negara. Mereka masuk sebagai non-unggulan, tapi langsung bikin sensasi.
Di babak 32 besar, lawan Kang Min Hyuk/Ki Dong Ju dari Korea. Game pertama kalah 17-21 karena adaptasi lapangan, tapi di game kedua mereka dominan 21-12. Game ketiga, mereka unggul di poin krusial dan menang 21-19. Itu jadi wakil Indonesia pertama yang lolos ke 16 besar.
Di 16 besar, derby Indonesia lawan Fajar/Muhammad. Game pertama kalah telak 8-21, tapi mereka adjust taktik—fokus ke net dan kurangi error. Hasilnya, menang 21-14 dan 21-16. Fajar bilang pasca match, “Mereka main bagus, kami kurang siap.”
Puncaknya di perempat final lawan unggulan 3, Liang/Wang dari China. Liang/Wang adalah juara dunia, tapi Raymond/Nikolaus main tanpa beban. Game pertama, mereka leading 11-9 di interval, lalu tutup 21-18. Game kedua, smash Raymond dan defense Nikolaus bikin China kewalahan, menang 21-12. Total durasi match cuma 35 menit! Ini upset terbesar di turnamen.
Di semifinal, mereka bakal lawan pemenang antara Aaron Chia/Soh Wooi Yik (unggulan 2) atau pasangan lain—lihat draw, mungkin Kim Won-ho/Seo Seung-jae atau yang lain. Apapun, ini kesempatan emas.
Analisis: Apa yang Bikin Mereka Menang?
Kenapa Raymond/Nikolaus bisa bungkam keraguan? Pertama, taktik cerdas. Mereka main cepat, gak kasih lawan napas. Smash Raymond sering jadi pembunuh, sementara Nikolaus cover belakang dengan baik.
Kedua, mental kuat. Di All England, tekanan besar—arena penuh, sejarah turnamen sejak 1899. Tapi mereka bilang, “Kami main buat enjoy dan buktiin diri.” Itu beda dari pasangan senior yang kadang overthink.
Ketiga, persiapan fisik. Dari rekor, mereka punya stamina bagus—jarang kalah di game ketiga. Di 2026, win rate mereka 70% di men’s doubles.
Tapi, kekurangan? Masih kurang pengalaman di final besar. Dua runner-up di awal tahun ini bukti mereka kuat tapi belum juara Super 300 ke atas di 2026.
Tips dari Mereka untuk Pemain Muda
- Latihan konsisten: Minimal 6 jam sehari.
- Fokus mental: Meditasi atau baca motivasi.
- Belajar dari kekalahan: Setiap match adalah pelajaran.
Dampak ke Timnas Indonesia dan Prospek Masa Depan
Lolosnya Raymond/Nikolaus ke semifinal All England 2026 bikin ganda putra Indonesia bangkit. Setelah era Minions (Kevin/Marcus) pensiun, kita butuh darah baru. Mereka bisa jadi tulang punggung di Thomas Cup atau Olimpiade mendatang.
Prospek? Kalau menang semi, mereka bisa juara—tapi lawan tangguh. Ranking 17 sekarang bisa naik ke top 10 kalau konsisten. Tahun ini, mereka rencana ikut Swiss Open dan turnamen lain.
Buat fans, ini reminder bahwa talenta Indonesia gak habis. PBSI harus dukung mereka lebih, seperti program latihan khusus.
Kesimpulan: Dari Keraguan ke Harapan
Raymond Indra/Nikolaus Joaquin lolos ke semifinal All England 2026 bukan kebetulan. Ini hasil kerja keras, partnership solid, dan mental baja. Mereka ingin bungkam keraguan, dan sudah mulai lakuin itu. Siapa tahu, besok mereka angkat trofi? Buat pembaca, yuk dukung mereka—follow update di BWF atau Instagram mereka. Kalau kamu pebulutangkis pemula, ambil inspirasi dari cerita ini. Share pendapatmu di komentar, siapa yang bakal menang All England tahun ini?