Bayangkan kamu lagi nyeruput kopi pagi, scroll berita, dan tiba-tiba baca soal alat canggih yang bikin penyelam bisa “terbang” di bawah air tanpa capek. Kedengarannya seperti adegan film sci-fi, kan? Tapi ini nyata, bro! Baru-baru ini, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) lagi getol-getolnya kolaborasi sama PT Chroma International buat menyempurnakan Swimmer Thruster, atau yang disebut juga Unit Pendorong Penyelam (UPP).
Ini bukan sekadar gadget biasa. Alat ini bisa jadi game changer buat kemandirian teknologi maritim Indonesia. Kita yang negara kepulauan dengan laut luas banget, selama ini sering impor teknologi underwater. Nah, dengan Swimmer Thruster buatan anak negeri, kita bisa mulai mandiri. Seru, kan? Yuk, kita bahas lebih dalam apa sih sebenarnya alat ini, gimana proses pengembangannya, dan kenapa ini penting banget buat masa depan kita.
Apa Itu Swimmer Thruster? Simpelnya, Jetpack Bawah Air!
Pernah lihat penyelam di film yang geraknya cepet banget di air, kayak punya tenaga super? Nah, Swimmer Thruster itu kurang lebih seperti itu. Secara sederhana, ini alat pendorong elektrik yang dipasang atau digenggam penyelam buat bantu mobilitas di bawah air.
Bayangin aja, tanpa alat ini, penyelam harus gerak pakai kaki dan tangan doang. Capek, lambat, dan cadangan oksigen cepet habis. Dengan Swimmer Thruster, penyelam bisa meluncur lebih cepat, jauh, dan hemat energi. Mirip scooter listrik, tapi versi underwater!
Di dunia internasional, alat kayak gini sering disebut Diver Propulsion Vehicle (DPV) atau underwater scooter. Banyak merek luar seperti Yamaha atau Suez punya versi mereka sendiri. Tapi yang bikin beda di sini, ini dikembangkan khusus buat kebutuhan Indonesia, dengan sentuhan riset lokal dari BRIN.
Alat ini pakai motor elektrik terintegrasi, baterai tahan air, dan propeller yang efisien. Cocok banget buat penyelam profesional, TNI AL, tim rescue, atau bahkan diver rekreasi yang suka eksplorasi terumbu karang.
Kolaborasi Keren BRIN dan PT Chroma: Dari Riset ke Produksi Massal
Berita ini muncul dari acara “BRIN Goes to Industry”, di mana Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN resmi jalin kerja sama sama PT Chroma International. Mereka tandatangani kesepakatan buat penyempurnaan Swimmer Thruster.
BRIN bawa keahlian riset hidrodinamika – ilmu soal aliran air dan bagaimana benda bergerak di dalamnya. Tim PRTH fokus optimasi desain supaya alat ini lebih efisien dan nyaman dipakai.
Sementara PT Chroma, sebagai perusahaan industri, tangani sisi manufaktur. Mereka pastikan komponen-komponen bisa diproduksi massal dengan standar tinggi, biar nanti harganya terjangkau dan mudah didapat.
Ini contoh nyata hilirisasi riset – dari laboratorium langsung ke industri. Bukan cuma prototipe doang, tapi beneran siap dipasarkan. Keren, kan, kalau nanti Swimmer Thruster ini jadi produk lokal yang diekspor?
Spesifikasi Swimmer Thruster yang Lagi Dikembangkan
Prototipe yang lagi disempurnakan ini punya target spesifikasi yang cukup menggoda. Menurut info dari tim PRTH, fokus utamanya ada di tiga hal:
- Sistem Propulsi: Target kecepatan 3 sampai 4 knot (sekitar 5,5-7,4 km/jam). Lumayan cepat buat ukuran underwater, bisa nutup jarak jauh tanpa capek.
- Efisiensi Baterai: Bisa operasi efektif sampai 1 jam penyelaman penuh. Ini penting banget, karena baterai yang awet berarti misi lebih panjang dan aman.
- Ergonomik dan Elektronik: Desain yang nyaman digenggam atau dipasang di tubuh, plus kontrol elektronik yang mudah. Penyelam nggak mau ribet pas lagi di kedalaman, kan?
Selain itu, alat ini dirancang ringkas, kedap air total, dan aman buat berbagai kondisi laut Indonesia yang arusnya kadang ganas.
Bandingkan sama produk impor, yang sering mahal dan kurang pas sama kondisi tropis kita. Versi lokal ini diharapkan lebih adaptif dan murah maintenance-nya.
Manfaat Swimmer Thruster Buat Penyelam dan Operasi Laut
Kenapa sih alat ini begitu penting? Mari kita breakdown manfaatnya satu-satu.
Pertama, buat penyelam sehari-hari. Kalau kamu hobi diving di Bunaken atau Raja Ampat, alat ini bikin eksplorasi lebih luas. Nggak perlu renang keras-keras, cukup pegang thruster dan nikmati pemandangan.
Kedua, buat operasi militer dan keamanan. TNI AL bisa pakai buat patroli bawah air, infiltrasi, atau misi khusus. Mobilitas cepat di bawah air itu keunggulan strategis.
Ketiga, tim rescue dan SAR. Saat ada kecelakaan kapal atau orang tenggelam, tim penyelamat bisa gerak lebih cepat, nutup area pencarian lebih luas.
Keempat, riset ilmiah. Peneliti kelautan bisa eksplorasi dasar laut lebih dalam dan lama, tanpa tergantung tenaga manusia doang.
Intinya, Swimmer Thruster hemat waktu, energi, dan oksigen. Penyelam bisa fokus ke misi, bukan ke “bertahan hidup” di air.
Mengapa Inovasi Ini Dorong Kemandirian Teknologi Maritim Nasional?
Indonesia itu negara maritim terbesar di dunia. Laut kita luasnya 5,8 juta km², penuh potensi ikan, mineral, sampai jalur perdagangan. Tapi ironisnya, banyak teknologi laut kita masih impor.
Dengan Swimmer Thruster dari BRIN dan PT Chroma, kita mulai bangun ekosistem teknologi sendiri. Nggak cuma alat ini, tapi juga pengetahuan, SDM, dan industri pendukungnya.
Ini sejalan sama visi pemerintah buat mandiri di sektor strategis. Bayangin kalau nanti kita bisa produksi massal, ciptakan lapangan kerja, dan bahkan ekspor ke negara tetangga seperti Malaysia atau Australia.
Plus, teknologi ini bisa dikembangkan lebih lanjut. Misalnya, versi lebih besar buat ROV (robot underwater), atau integrasi dengan drone laut.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Tentunya, pengembangan nggak selalu mulus. Tantangan seperti pengujian di kondisi laut nyata, sertifikasi keselamatan, dan skalabilitas produksi masih ada.
Tapi dengan kolaborasi pemerintah (BRIN) dan swasta (PT Chroma), peluang suksesnya besar. Harapannya, dalam beberapa tahun ke depan, kita lihat Swimmer Thruster ini dipakai luas di Indonesia.
Mungkin nanti ada versi komersial buat turis diving, atau versi khusus buat nelayan yang butuh cek jaring di kedalaman.
Kesimpulan: Langkah Besar Menuju Laut yang Lebih Mandiri
Swimmer Thruster dari BRIN dan PT Chroma bukan cuma alat pendorong biasa. Ini simbol bahwa Indonesia lagi serius bangun teknologi maritim sendiri. Dari riset hidrodinamika sampai produksi massal, semuanya dikerjain anak negeri.
Dengan target kecepatan 3-4 knot, baterai 1 jam, dan desain ergonomis, alat ini siap bantu penyelam kita lebih tangguh. Buat kamu yang suka laut, ini kabar gembira. Siapa tahu suatu hari kamu sendiri yang nyobain!
Kalau kamu tertarik teknologi maritim atau punya pengalaman diving, share di komentar ya. Siapa tahu kita bisa diskusi lebih lanjut.


