Halo, para orang tua! Bayangkan anak Anda tiba-tiba demam tinggi berhari-hari, disertai ruam merah di sekujur tubuh, mata merah seperti habis nangis, dan bibir pecah-pecah. Awalnya mungkin Anda pikir ini cuma flu biasa atau campak. Tapi ternyata, ini bisa jadi tanda penyakit Kawasaki pada anak – kondisi yang baru-baru ini diingatkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) karena bisa memicu masalah jantung serius.
Ya, IDAI baru saja mengeluarkan peringatan bahwa penyakit Kawasaki pada anak sering tidak terdeteksi, padahal diperkirakan ada ribuan kasus setiap tahun di Indonesia. Yang paling mengkhawatirkan, tanpa penanganan cepat, ini bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah jantung dan meningkatkan risiko serangan jantung di kemudian hari. Menyeramkan, kan? Tapi tenang, artikel ini akan bantu Anda paham segalanya secara lengkap tapi santai. Kita bahas dari gejala, penyebab, sampai cara mengatasinya. Yuk, baca sampai habis biar lebih siap jaga buah hati!
Apa Itu Penyakit Kawasaki pada Anak?
Penyakit Kawasaki adalah peradangan pada pembuluh darah di seluruh tubuh, yang paling sering menyerang anak di bawah 5 tahun. Pertama kali ditemukan di Jepang pada 1960-an, makanya dinamai dari nama dokter yang menemukannya, Dr. Tomisaku Kawasaki.
Ini bukan penyakit menular, tapi bisa muncul tiba-tiba. Yang bikin khawatir, peradangan ini bisa menyerang arteri koroner – pembuluh darah utama yang suplai oksigen ke jantung. Kalau dibiarkan, pembuluh itu bisa melebar atau bahkan membentuk aneurisma, yang berisiko pecah atau tersumbat.
Menurut IDAI, penyakit Kawasaki pada anak jadi penyebab utama penyakit jantung yang didapat (bukan bawaan lahir) pada anak-anak. Di Indonesia, banyak kasus yang lolos dari deteksi karena gejalanya mirip penyakit lain. Hasilnya? Ribuan anak berisiko tanpa kita sadari.
Gejala Penyakit Kawasaki pada Anak yang Wajib Diwaspadai
Gejala utama biasanya muncul bertahap. Yang paling khas adalah demam tinggi (di atas 38-39°C) yang bertahan minimal 5 hari, dan tidak turun meski diberi obat penurun panas biasa.
Tapi bukan cuma demam doang. Untuk diagnosis lengkap, dokter biasanya cari setidaknya 4 dari 5 gejala klasik ini:
- Ruam merah di tubuh: Mirip campak, muncul di badan, selangkangan, atau punggung. Kadang seperti bintik-bintik kecil atau bentol besar.
- Mata merah (konjungtivitis): Kedua mata merah tanpa belekan atau nanah, seperti alergi tapi lebih intens.
- Perubahan di mulut dan bibir: Bibir merah, pecah-pecah, lidah seperti stroberi (merah dengan bintik putih), atau tenggorokan merah.
- Tangan dan kaki bengkak: Telapak tangan/kaki merah dan bengkak, kemudian kulit mengelupas setelah beberapa minggu.
- Pembengkakan kelenjar getah bening: Biasanya di leher, satu sisi lebih besar dari 1,5 cm.
Selain itu, anak bisa rewel banget, nafsu makan hilang, diare, atau nyeri sendi. Kalau anak Anda punya demam panjang plus beberapa tanda ini, jangan tunggu lama – langsung ke dokter anak ya!
Mengapa Penyakit Kawasaki pada Anak Berbahaya untuk Jantung?
Ini bagian yang paling bikin deg-degan. Peradangan dari penyakit Kawasaki bisa menyerang dinding pembuluh darah, termasuk arteri koroner.
Tanpa pengobatan tepat waktu, sekitar 15-25% anak bisa mengalami pelebaran atau aneurisma pada pembuluh jantung. Bayangkan pembuluh darah seperti balon yang digelembungkan – lama-lama bisa tipis dan pecah, atau malah tersumbat oleh gumpalan darah.
Akibatnya? Risiko serangan jantung, bahkan di usia muda. IDAI tekankan bahwa komplikasi jantung ini yang paling ditakuti, dan bisa berlangsung jangka panjang. Untungnya, kalau diobati dalam 10 hari pertama, risiko ini turun drastis jadi kurang dari 5%.
Penyebab Penyakit Kawasaki: Masih Misteri, Tapi Ada Petunjuk
Sampai sekarang, penyebab pasti penyakit Kawasaki pada anak belum diketahui. Dokter menduga ini kombinasi antara infeksi (mungkin virus atau bakteri) dan respons imun tubuh yang berlebihan, ditambah faktor genetik.
Anak keturunan Asia, termasuk Indonesia, memang lebih rentan. Musim tertentu seperti akhir musim hujan atau awal kemarau juga kadang ada peningkatan kasus. Tapi bukan berarti penyakit ini menular antar anak – aman kok kalau anak lain main bareng.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Penyakit Ini?
Diagnosis tidak selalu mudah karena tidak ada tes khusus. Dokter biasanya pakai kriteria klinis: demam 5 hari plus minimal 4 gejala klasik.
Kalau gejala tidak lengkap (disebut Kawasaki inkomplit), dokter akan lakukan tes darah (untuk lihat tanda peradangan tinggi), USG jantung (ekokardiogram) untuk cek pembuluh darah, atau tes urine.
Yang penting, deteksi dini! Kalau curiga, minta rujuk ke dokter spesialis anak atau kardiologi anak.
Pengobatan Penyakit Kawasaki pada Anak: Cepat adalah Kunci!
Pengobatan utama adalah suntik Immunoglobulin (IVIG) dosis tinggi, diberikan di rumah sakit melalui infus. Ini bisa kurangi peradangan dan risiko komplikasi jantung drastis kalau diberi dalam 10 hari pertama.
Ditambah aspirin dosis tinggi dulu untuk anti-peradangan, lalu dosis rendah jangka panjang untuk cegah penggumpalan darah.
Setelah itu, anak perlu pemantauan rutin dengan eko jantung, terutama kalau ada kelainan koroner. Kebanyakan anak sembuh total, tapi yang punya komplikasi perlu perhatian ekstra seumur hidup – seperti pantang olahraga berat atau minum obat pengencer darah.
Tips untuk Orang Tua: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Meski tidak bisa dicegah 100%, ada beberapa hal yang bisa membantu:
- Segera periksa kalau anak demam tinggi lebih dari 5 hari.
- Jangan abaikan ruam atau mata merah yang tidak biasa.
- Vaksinasi rutin tetap penting, meski tidak ada vaksin khusus untuk Kawasaki.
- Pola hidup sehat: makan bergizi, istirahat cukup, hindari infeksi berat.
Kalau anak pernah kena, rutin kontrol jantung ya. Dan ingat, semakin cepat ditangani, semakin kecil risikonya.
Kesimpulan: Jangan Anggap Remeh Penyakit Kawasaki pada Anak
Penyakit Kawasaki pada anak memang tidak boleh disepelekan, apalagi dengan peringatan terbaru dari IDAI bahwa ini bisa picu risiko serangan jantung serius kalau terlambat ditangani. Tapi kabar baiknya, dengan kewaspadaan dan pengobatan dini, hampir semua anak bisa sembuh tanpa komplikasi jangka panjang.
Jadi, para orang tua, selalu perhatikan gejala kecil sekalipun. Kalau ragu, langsung konsultasi dokter. Kesehatan buah hati kita nomor satu, kan? Semoga artikel ini bermanfaat – share ke sesama orang tua kalau perlu ya!


